Google
 

It's Show Time!

Kunjungi juga blogku lain sisi ! "sasana negeriku" dekabagink.multiply.com… titiknadirku.blogspot.com

Senin, 31 Maret 2008

Wacana Diskusi Guru dan Praktisi Pendidikan sebagai Upaya Menjembatani Kesenjangan Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran

Wacana Diskusi Guru dan Praktisi Pendidikan sebagai
Upaya Menjembatani Kesenjangan Peningkatan
Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran di Lapangan


Ringkasan:
Kualitas pembelajaran dan pengajaran dapat lebih
ditingkatkan dengan menciptakan suatu wacana atau
media diskusi antara guru sebagai tenaga pendidik di
lapangan dengan dosen, khususnya dosen LPTK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan) sebagai praktisi
pendidikan. Selain dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran dan pengajaran yang pada akhirnya
bermuara pada peningkataan mutu pendidikan, sarana
diskusi ini juga dapat menjadi suatu peretas yang
menjembatani kesenjangan antara teori dengan
pelaksanaan prakteknya di lapangan. Keterjalinan kerja
sama ini juga akan lebih memberikan pemaknaan dan
pengenalan kondisi lapangan kepada praktisi pendidikan
dalam konsepsi dasar teoretis pencanangan kebijakan
ataupun perumus model, metode, atau pendekatan
pembelajaran dalam pendidikan agar lebih terpadu,
simultan, objektif, dan reliable.


Isi Artikel:
Kualitas pembelajaran dan pengajaran dapat lebih
ditingkatkan dengan menciptakan suatu wacana atau
media diskusi antara guru sebagai tenaga pendidik di
lapangan dengan dosen, khususnya dosen LPTK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan) sebagai praktisi
pendidikan. Selain dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran dan pengajaran yang pada akhirnya
bermuara pada peningkataan mutu pendidikan, sarana
diskusi ini juga dapat menjadi suatu peretas yang
menjembatani kesenjangan antara teori dengan
pelaksanaan prakteknya di lapangan.
Dengan sarana diskusi antara guru sebagai pelaksana di
lapangan dengan para dosen (dosen LPTK) sebagai
praktisi pendidikan diharapkan memiliki suatu
keberlanjutan pada bentuk kolaborasi diantara
keduanya. Pertama, hal ini dapat meningkatkan
kompetensi guru dengan pemerolehan dan penerapan
model, metode, atau pendekatan pembelajaran yang
mutakhir melalui kepelatihan penelitian dan eksperimen
maupun penyusunan karya ilmiah.
Kedua, diskusi yang berlanjut pada kolaborasi ini akan
lebih menyatukan antara penyusunan teori dalam
kaitannya dengan model, metode, atau pendekataan
pembelajaran yang benar-benar reliable dengan kondisi
lapangan oleh para praktisi pendidikan (dosen LPTK).
Wacana diskusi ini merupakan sarana yang dapat
mewadahi dan menjembatani antara suatu praktek
pembelajaran di lapangan yang dalam kaitannya
dilakukan oleh guru, dan suatu perkembangan teori atau
pendekatan pembelajaran yang mutakhir dalam kaitannya
dilakukan oleh para praktisi pendidikan. Karena tidak
menutup kemungkinan bahwa dalam praktek pembelajaran
guru sering menemukan kesulitan dalam menerapkan atau
menciptakan suatu model, metode, atau pendekatan baru
yang mampu mendukung proses dan hasil pembelajaran
siswanya. Namun, di lain pihak, para praktisi
pendidikan mampu memberikan suatu pemahaman,
pemerolahan, dan penerapan model, metode, atau
pendekatan baru sebagai upaya perkembangan
kemutakhiran paradigma pendidikan.
Apalah arti suatu kemutakhiran pendidikan melalui
produk model, metode, ataupun pendekatan yang baru,
kalau tidak dapat diimplementasikan secara langsung
dalam proses dan praktek pembelajaran di lapangan?
Ibarat pengambilan suatu kebijakan pendidikan yang
ditetapkan di belakang meja kerja yang tanpa melihat
aspek penerapannya di lapangan dan berakhir dengan
hasil yang rancu atau bahkan sia-sia.
Dan apakah efektif atau efisienkah bila guru yang
dalam praktek pembelajaran di lapangan memiliki
beberapa hambatan yang ditemui dalam menerapkan model,
metode, atau pendekatan yang sesuai agar dapat
memaksimalkan proses dan hasil pembelajaran tetapi
belum dapat menemukan pemecahannya? Sebagai jawabanya
guru akan menyelesaikan hambatan itu dalam
representasi pemecahan sesuai dengan kemampuan dan
kompetensi yang didasarkan pada sudut pandang dan
paradigma berpikirnya sendiri. Dengan demikian,
sebagai konsekuensinya permasalahan belum dapat
dituntaskan dengan pencapaian hasil yang semaksimal
mungkin.
Ibarat seseorang yang ingin mengupas apel tapi tak
tahu harus menggunakan pisau apa atau jenis pengupas
yang seperti apa? Dengan menggunakan silet ataukah
gergaji? Kedua-duanya memang bisa digunakan untuk
mengupas apel tetapi hasilnya kurang efektif dan
efisien, serta terkesan memaksa.
Memang di setiap daerah, seperti kabupaten memiliki
atau telah dibentuk suatu sarana diskusi guru setiap
bidang studi yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP). Tetapi seperti yang telah disebutkan
di atas bahwa banyak masalah yang ditemui guru dalam
praktek pembelajaran yang diselesaikan sebatas pada
cara pandang mereka sendiri. Dan walaupun ada tim MGMP
yang dapat dijadikan sebagai sarana diskusi antar guru
untuk dapat menemukan suatu pemecahan masalah, toh
kalau pisau atau paradigmanya sama karena kurang atau
terbatasnya sarana pelatihan dan komunikasi yang mampu
memberikan kontribusi sebuah pengenalan, pemerolehan,
daan penerapan model, metode, atau pendekatan yang
baru dan mutakhir sesuai dengan perkembangan, maka
sangat disayangkan apabila ada suatu wadah yang dapat
dijadikan sarana atau jembatan pemecahan masalahnya,
mengapa tidak diusahakan untuk dicoba dan
dimaksimalkan?
Penciptaan diskusi sebagai sarana rutin yang mewadahi
kerja sama interaktif antara guru sebagai pelaksana
praktek pembelajaran di lapangan dengan praktisi
pendidikan selaku perumus kebijakan ataupun model
pembelajaran memang sangat diperlukan. Praktek harus
didukung dengan teori, dan teori pun hanya dapat
bernilai kemanfaatan bila dapat diterapkan bila
melihat kondisi praktek di lapangan.
Dengan terjalinnya komunikasi antara guru dengan
praktisi pendidikan seperti dosen LPTK maka akan
menciptakan suatu konstruksi terpadu dalam upaya
perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Keterjalinan kerja sama ini juga akan lebih memberikan
pemaknaan dan pengenalan kondisi lapangan kepada
praktisi pendidikan dalam konsepsi dasar teoretis
pencanangan kebijakan ataupun perumus model, metode,
atau pendekatan pembelajaran dalam pendidikan agar
lebih terpadu, simultan, objektif, dan reliable.
Di sisi lain, kualitas dan kompetensi guru pun semakin
meningkat seiring dengan pendayagunaan potensi
keprofesionalitasnya dalam melakukan rangkaian
enelitian maupun uji coba penghadiran suatu model,
metode, atau pendekatan baru dalam proses pembelajaran
sebagai bentuk kolaborasi dengan para praaktisi
pendidikan (khususnya dosen LPTK).
Dengan sendirinya guru di era sekarang ini pun tak
akan lagi dibingungkan dengan persyaratan program
sertifikasi guru yang membutuhkan kompetensi kinerja
dengan representasi portofolio meliputi penulisan
karya ilmiah, keikutsertaan pelatihan, organisasi,
maupun penelitian dalam pembelajaran. Hal ini
mengingat bahwa sarana diskusi rutin antara guru
dengan praktisi pendidikan ini juga dapat lebih
mendorong dan mengkondisikan guru untuk kreatif dan
inovatif baik melalui penelitian maupun penulisan
karya ilmiah yang berkaitan dengan pembelajarannya
masing-masing.
Seiring dengan meningkatnya kualitas, kompetensi, dan
keprofesionalan guru, maka kualitaas proses dan hasil
pembelajaran oleh siswa pun akan lebih meningkat
dengan penciptaan dan penghadiran model, metode, atau
pendekatan belajar yang lebih variatif. Sehingga
pelaksanaannya pun akan lebih terprogram secara
terpadu dan simultan sesuai dengan permasalahan dan
kondisi di lapangan yang sesungguhnya.
Dengan demikian wacana diskusi yang diselenggarakan
secara rutin antara guru sebagai pelaksana
pembelajaran di lapangan dengan para praktisi
pendidikan akan menjadi suatu konsepsi yang saling
menguntungakn diantara keduanya. Terapan simbiosis
mutualisme dalam penciptaan ranah peningkataan
kualitas pendidikan pun dapat diwujudkan meskipun
sebelumnya telah tercipta suatu stigma kesenjangan
antara pelaksanaan praktek pembelajaran di lapangan
oleh pihak guru dan pencanangan teori dan kebijakan
di tangan pihak praktisi pendidikan.

Dian Komalasari
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Surabaya

Tidak ada komentar: