Google
 

It's Show Time!

Kunjungi juga blogku lain sisi ! "sasana negeriku" dekabagink.multiply.com… titiknadirku.blogspot.com

Senin, 31 Maret 2008

Pergeseran Paradigma Baru Pendidikan

Paradigma Telah Bergeser: Dulu Siswa yang Memilih
Sekolah, Kini Sekolah yang Memilih Siswa

Paradigma baru muncul untuk menggantikan paradigma
lama dan sebagai konsekuensinya kita harus dapat
mengubah cara pandang lama untuk dapat mengikuti
perubahan dan mampu bersaing atas nama suatu
pembaharuan.
Kiranya paradigma musim memilih sekolah yang tiap
tahun selalu bergulir telah bergeser konsep. Dulu
memang benar siswa yang memilih untuk masuk ke sekolah
sesuai dengan harapan dan keinginannya masing-masing.
Tapi sekarang? Sekolah-lah yang memilih siswa.
Sebelum memilih atau menetapkan sekolah yang akan
dimasuki, siswa harus banyak-banyak bercermin pada
diri baik dalam tataran tingkat kemampuan
sosial-ekonomi maupun peruntungan nilai hasil Ujian
Akhir Nasional (UAN). Karena bukanlah rahasia lagi
bahwa kini banyak sekolah-sekolah yang secara halus
atau secara tersirat mendeskripsikan sekolahnya dalam
criteria sebagai sekolah unggulan terkait tingkat
kemampuan sosial-ekonomi, yaitu untuk kalangan
menengah ke atas. Mereka berdalih dengan prinsip
“Jer Basuki Mawa Beya”. Dan di sini prinsip
tersebut diartikan bahwa pendidikan yang baik dan
bagus itu memang membutuhkan biaya. Biaya yang
dibutuhkan tentulah tidak sedikit. Ada uang maka ada
barang. Ada biaya maka ada kualitas. Memang kita tidak
menutup mata akan kerelevanan dan kebermaknaan prinsip
itu mengingat banyak sekolah khususnya sekolah negeri
ataupun swasta bonafit yang menerapkan prinsip itu dan
terbukti kebenarannya. Dengan jaminan biaya tinggi
akan dapat diikuti dengan penyediaan sarana-prasarana
pembelajaran yang sangat memadai dan penyediaan
tenaga-tenaga pengajar yang professional. Dan lihatlah
hasilnya yang berupa output (siswa) yang berkompeten
dan mampu bersaing.
Tapi benarkah prinsip tersebut akan menciptakan suatu
masyarakat yang berkeadilan dalam memperoleh
kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan,
mengingat kondisi bangsa Indonesia yang terdapat
kesenjangan yang semakin jauh antara golongan
konglomerat dengan golongan mlarat atau golongan
menengah ke atas dengan golongan menengah ke bawah?
Bila prinsip Jer Basuki Mawa Beya tetap diterapkan
dalam dunia pendidikan kita ini dengan persepsi atau
penerimaan yang demikian maka jangan harap di musim
milih sekolah untuk tahun ini maupun untuk tahun-tahun
berikutnya, para siswa dapat dengan bebas memilih
sekolah yang ingin dimasukinya. Yang ada ialah sekolah
yang memilih para calon siswanya.
Para siswa harus melihat dulu latar belakang sosial
ekonominya saat akan memilih sekolah tujuannya.
Berterimakah atau pantaskah ia duduk sebagai siswa di
sekolah yang dipilihnya? Sekolah dengan biaya tinggi
yang hanya terbatas untuk kalangan bermodal dan
berduit. Meski pemerintah telah menggratiskan
biayasekolah di tingkat Sekolah Dasar dan menghapuskan
keberadaan pembayaran BP3 khususnya di sekolah-sekolah
negeri untuk tingkat menengah pertama (SMP) dan
tingkat menengah atas (SMA), toh prakteknya tidak
demikian. Motif untuk mengadakan system tarif di
sekolah selalu saja ada, BP3 dihapus diganti dengan
sebutan SPP, nanti SPP dihapus diganti dengan antah
apa lagi namanya. Ada istilah bayar uang gedung
padahal gedung sekolah sudah berdiri tegak dan sudah
sangat memadai dan kalaupun toh ada pembangunan itu
sudah mendapat bantauan dari pemerintah, salah satunya
melalui program Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Meski calon siswa yang akan masuk di suatu sekolah,
katakanlah untuk urusan kecerdasan tidak kalah dan
nilai hasil Ujian Akhir Nasionalnya (UAN) tinggi
tetapi kemampuan sosial ekonominya rendah maka ini
nerupakan suatu kendala untuk memperoleh pendidikan
yang baik dan bermutu guna mengembangkan potensinya.
Memang untuk menangkis keadaan inidapat diajukan suatu
konsep tentang keberadaan dan kebergunaan program
beasiswa. Tapi tetap saja faktanya selalu tidak
sejalan dengan yang diharapkan. Beasiswa hanya mampu
menutupi biaya pendidikan dalam taraf biasa atau
sedang, dan untuk sekolah dengan biaya tinggi jelas
beasiswa tidak sanggup. Namannya juga beasiswa.
Dalam kasus ini mungkinkah ada yang salah dengan
prinsip Jer Basuki Mawa Beyakita itu? Ataukah memang
yang salah adalah penerimaan sekolah-sekolah dalam
penerapan prinsip tersebut? Mari hal itu kita tanyakan
pada diri kita masing-masing, karena bila kita
menuntut diadakannya perombakan terhadap system dan
tatanan yang telah begitu terpelihara seperti yang
demikian adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit
mengingat siapakah kita ini?

Terlepas dari masalah tingkat kemampuan sosial ekonomi
yang menjadi salah satu faktor yang membuat pergeseran
dan perubahan paradigma dari siswa yang memilih
sekolahnya sendiri menjadi sekolah yang memilih
(calon) siswanya sendiri, juga dikarenakan adanya
tingkat peruntungan nilai hasil Ujian Akhir Nasional
(UAN). Mengapa? Karena sekolah dalam kegiatan
penerimaan siswa baru selalu menerapkan system
ranking. Artinya setiap siswa yang mendaftar diurutkan
atau diperingkat dari nilai yang paling tinggi sampai
nilai yang paling rendah. Danurutan atau peringkat ini
setiap saat bisa berubah disesuaikan dengan data
terkini para calon siswa yang mendaftar masuk. Dengan
demikian para siswa yang berada di posisi paling bawah
atau di zona degradasi harus bersiap-siap untuk cabut
atau pindah ke lain sekolah. Tentu mereka akan
berpindah ke sekolah yang great atau tingkat nilainya
lebih rendah daripada sekolah yang pertama tadi.
Memang Segala sesuatunya selalu memiliki sisi positif
dan sisi negatif. Dan system ranking atau peringkat
ini memang memberikan suatu konsep penyaringan bagi
(calon) siswa baru yang sifatnya ketat, bersaing, dan
terbuka. Tapi di sisi lain, penerapan system ranking
terkait faktor pilihan sekolah ini mengharuskan para
siswa untuk pandai membaca peluang dalam memilih
sekolah kalau tidak mau ia tersingkir dari persaingan
dengan siswa yang lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa musim milih sekolah kini
telah terjadi pergeseran paradigma, dulu siswa yang
memilih sekolah tetapi sekarang semuanya seolah
berbalik dan sekolah-lah yang kini memilih siswa.
Keadaan ini terjadi karena siswa dalam menentukan
sekolah yang menjadi pilihannya atau yang menjadi
tujuannya harus didasarkan pada tingkat kemampuan
sosial ekonomi dan tingkat peruntungan nilai hasil
Ujian Akhir Nasional (UAN)-nya. Ini merupakan suatu
keadaan yang sudah tidak dapat dihindari lagi dan para
siswa harus mampu menyesuaikan dengan keadaan yang
melingkupinya kini.


Rabu, 30 Mei 2007
Dian Komalasari
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia
dekabagink@yahoo.co.id

Tidak ada komentar: